Advertisements

Sentuh Hati Pembaca dengan Tulisan Penuh Rasa

Saya kembali teringat kenapa puisi Kahlil Gibran sungguh mengena di hati para pembacanya. Tidak hanya dirangkai dengan kata-kata indah dan bait-bait syahdu, tapi juga bagaimana tiap larik yang ia tuangkan, berisi makna yang dalam. Apalagi jika menyentuh nurani yang membacanya, sungguh sebuah hal yang makin sulit diraih di era digital sekarang ini.

Bagaimana tidak, zaman sekarang semua orang maunya membaca yang singkat padat jelas dan cepat. Internet mengubah habit dari yang membaca dengan seksama menjadi sesingkat-singkatnya. Jadi wajar saja, jika tulisan yang berkualitas yang ditayangkan di media online semakin jarang. Semua mengejar traffic, page views dan terkadang sedihnya, akurasi berita tersebut tak jarang diabaikan.

Saya mencoba untuk mengembalikan esensi dari menulis, yaitu dengan hati. Bagaimana apa yang saya pikirkan dan saya rasakan, mengalir menjadi kalimat-kalimat yang renyah dan nikmat untuk dibaca dan juga mengetuk nurani. Hal ini tentu bukan perkara mudah, apalagi saya juga bukan tipe orang yang puitis hehehe….

But it’s fine, saya memulainya dengan mengumpulkan fakta. Kemudian merangkainya dengan pemilihan kata yang seksama. Menyingkat adalah kebiasaan yang menghilangkan esensi dari sebuah artikel itu sendiri. Saya mencoba untuk tidak membatasi diri dengan maksimal jumlah kata, tapi tetap fokus agar tidak melantur ke mana-mana. Hasilnya, saya mencoba membuat sepotong kisah hidup Sri Mulyani, di sini: http://boombastis.com/2015/10/15/kisah-hidup-sri-mulyani/

Mencoba mengangkat hal yang sudah lama bergulir, tentu bisa saja dibilang ‘basi’. That’s why, saya ingin mengangkat dari sisi lain. Bukan hanya tentang kasusnya, tapi juga dari sisi emosionalnya. Ingat kisah tentang pembunuhan si kecil Angeline? Banyak ibu-ibu menangis saat membaca berita mengenai reka kejadian pembunuhan sadis itu. Itulah yang dimaksud dengan mengetuk nurani seseorang.

Dan itu bukan hal yang mudah, jika menyangkut tentang sosok Sri Mulyani. Beliau bukan orang yang suka menunjukkan perasaan pribadinya apalagi menceritakan masalah yang dihadapinya. Mantan menteri keuangan itu cenderung bersikap formal dan profesional. Membuat kita semua lupa, Sri Mulyani juga manusia.

Sedikit demi sedikit saya menemukan beberapa kisah hidupnya yang sangat menyentuh. Bagaimana beberapa potong kata yang terlontar dari bibirnya, sesungguhnya penuh dengan rasa yang mengguncang jiwa. Dengan perlahan dan hati-hati, saya mengolahnya menjadi sebuah artikel yang humanis.

Komentar Pembaca

Komentar Pembaca

Saya menulisnya dengan sepenuh hati, literally. Sembari saya membayangkan bagaimana hancur leburnya perasaan Ibu Sri Mulyani kala itu. Bagaimana ia berjuang sendiri tanpa ada yang membela, dan akhirnya legowo dilengserkan dari posisinya. Ia adalah contoh nyata pahlawan dan superwoman yang sesungguhnya, dont you agree?

Namun semua itu tertutup kabut kasus bank Century dan polemik politik yang tiada akhir. Oleh sebab itu, saya mengangkatnya dari sisi lain. Hasilnya? Saya menitikkan air mata saat membaca komen-komen dari pembaca. Mereka semua begitu hormat dan sayang pada Ibu Sri Mulyani, dan mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya. Seolah rasa empati dan simpati yang kini jarang ada, muncul kembali membuncah begitu hebatnya.

Ya, Bung Karno membangkitkan semangat nasionalisme juga dengan kata-kata bukan? Karena apa yang didengar dan dibaca, bisa mempengaruhi emosi dan pemikiran seseorang. Goresan pena, bisa lebih tajam dari peluru sekalipun.

Mendapat share sebanyak 13.000 lebih, artikel Sri Mulyani tadi menjadi eksperimen saya. Apakah masyarakat Indonesia masih mau membaca dengan perlahan dan penuh perasaan? Apakah netizen masih peduli dengan fakta, bukan hanya sekadar berita fantastis semata?

Ternyata, masih banyak yang memiliki keinginan untuk membaca artikel yang mengaduk-aduk perasaan. Untuk pertama kalinya, saya tidak menemukan hujatan sedikitpun. Semuanya kagum pada sosok Sri Mulyani, sungguh luar biasa. Satu hal lagi yang membuat saya cukup terkejut, artikel di atas cukup viral dishare di sosial media.

“Melacur demi pageviews” sudah menjadi ungkapan yang familiar didengar oleh kalangan penulis media online. Nulis apa aja deh pokoknya banyak yang baca. Akhirnya entah itu fakta atau belum tentu kebenarannya, ‘diembat’ juga. Ini yang saya hindari, karena sama saja dengan menyebar fitnah kan?

Jadi, jangan lupa untuk melibatkan hati saat menulis. Hati-hati juga saat menyampaikan sesuatu. Jangan kehilangan optimisme mengenai artikel yang humanis dan enak dibaca, karena pada dasarnya semua manusia suka segala sesuatu yang menyentuh emosionalnya.

Menulis dengan hati, agar bisa menyentuh nurani

Advertisements

Leave a Reply