Advertisements

Bagaimanakah Rasanya Jadi Penulis di Media Online?

Menulis artikel di media adalah hal yang banyak dilakukan muda-mudi saat ini. Entah butuh ongkos tambahan sehingga jadi freelancer, atau ingin menambah pengalaman kerja sehingga sengaja menceburkan diri di dunia jurnalis online. Saya percaya kalau banyak penulis muda yang kreatif, tapi saya lebih percaya bahwa banyak penulis media online yang tidak punya pegangan apa-apa saat menulis.

Saat pertama kali saya menjajaki meja jurnalis online, saya merasa semuanya mudah. Seperti membuat sebuah blog. Praktisnya, menulis di media online memang SEMUDAH itu. Tapi, sesungguhnya menulis untuk media online, tidaklah SEREMEH itu.

dikejar deadline

Semua bisa membuat tulisan blog, tapi dalam media online, ada yang namanya deadline, ada yang namanya mengejar traffic, ada yang namanya hak cipta dan sumber gambar and so on..and so on.

How to survive is also how I try to deal with my self as an content writer and editor. Dan alhamdulillah baru 3 tahun saya menggeluti dunia tulis menulis di media ini. Dari waktu sebanyak itu pula, saya belajar. Dari perusahaan satu ke perusahaan yang lain, dari klien satu ke klien yang lain. Dan bahkan, dari dibimbing penulis satu hingga membimbing penulis muda yang lain.

THERE IS NO HANDOUT

Belajar secara otodidak itu bagus, tapi tidak mendalami teori sungguh hanya akan membuat kita BESAR KEPALA (tuh sampe tulisannya ikut gede). Tapi yang menjadi penulis media, rata-rata besar oleh pengalaman daripada teori. There is no handout, but still you need to learn how to make a good writing. Jadi bagaimana cara menulis yang baik di media, bagaimana mencari sumber, manage waktu, memilih topik dan mengejar tren, selain ilmunya dari mulut ke mulut, percayalah kalau itu semua adalah hasil polesan dan gempuran waktu. Entah belajar dari jurnalis lain, cari-cari tips atau baca jurnal, dan sebagainya.

Gara-gara hal ini juga, bekerja di media online itu memang perputarannya bisa sangat cepat. Media butuh SDM yang berkualitas, tekun dan punya kemauan kuat. Yang nggak tahan banting bisa ter’seleksi alam’ dengan sendirinya.

BOW DOWN TO MBAH GOOGLE

As long as it can provide you some good sources and information. Karena kebanyakan penulis media menggantungkan diri mereka pada Mbah Google. Selebihnya pada referensi berupa buku, atau pengetahuan umum yang membekas sejak jaman sekolah (kalau masih membekas sih. Kalo yang membekas itu kenangan sama mantan, beda lagi ceritanya :D)

mbah google

Sisi positifnya adalah cari bahan jadi lebih mudah. Sementara itu sisi negatifnya adalah, jadi banyak penulis yang malas baca buku, atau bahkan sekedar menyisir data sambil cari informasi yang valid dari internet. Beware, banyak sekali informasi di dunia maya yang menyimpang dari kebenaran, bersifat hoax atau masih butuh kebijaksanaan untuk memahaminya.

DITARGET PAGEVIEW

Pageview bisa jadi surga dan bencana di saat yang bersamaan. Di satu sisi, pageview adalah sumber penghasilanmu, di sisi lain, tidak ada di dunia ini yang gratis, jadi untuk dapat pageview yang bagus ya harus bekerja keras dan cerdas. Pageview bisa jadi cahaya pencerahan bagi masa depan perusahaan. Di sisi lain, bisa jadi kambing hitam di mana perusahaan dianggap mengeksploitasi karyawan.

Semua itu tergantung iklim yang dibangun oleh sebuah perusahaan. Kalau iklimnnya harmonis dan sinergis, maka mencari pageview adalah ‘perjalanan hidup yang inspiratif’ (sungguh maknanya lebih dalam dari ini). Sedangkan kalau iklimnya sudah panas sejak detik pertama, niscaya setiap hari rasanya seperti perang dunia.

Selain itu juga tergantung cara pandang individu atau jurnalis itu sendiri. Mereka yang passion dan instingnya kuat dalam jurnalis, merasa pageview hanyalah kolam renang yang dia belajar lebih banyak saat mencoba meraih dan menyelaminya.

DIKEJAR DEADLINE

Ini yang sangat ‘femes’ di kalangan jurnalis, reporter, karyawan yang dikejar target (well, apa di dunia ini yang tidak punya target? :D) Waktu, adalah hal yang tidak bisa diganggu gugat.

Tidak ada trik atau catatan khusus. Yang saya ingat adalah kalau bisa memanfaatkan waktu atau berpacu dengan waktu sebaik mungkin, maka sukses sudah ada di depan mata. If you know what I mean.

DIKRITIK PEMBACA

Tidak semua orang akan setuju dengan yang kita tulis. Siap-siap saja kena kritikan pedas hingga caci maki. Hidup memang pro dan kontra, begitupula bagaimana ketika tulisan kita diterima oleh pembaca.

dikritik

Selain itu, kembali lagi ke pasal pertama tentang teknik menulis, dan pasal kedua tentang fenomena penggunaan Google sebagai acuan. Bila tidak di-maintain dengan baik, banyak penulis akan terjegal dengan dua hal ini. Misalnya keliru memahami berita, mengajukan fakta yang rupa-rupanya hoax dan sebagainya.

TULISANNYA DIJIPLAK

Segagah-gagahnya media yang punya copyright, namun masih banyak user di internet yang main comot dan menjiplak atau tinggal copy paste dengan berbagai kepentingan. Yang begini ini bikin turn off banget buat seorang penulis. Udah susah-susah nulis, eeeh.. dijiplak orang lain.

Tapi penulis yang tangguh itu nggak berhenti di situ sih. Jangan habiskan waktu buat ‘mutung’ atau ngambek. Lebih baik waktunya dipakai untuk cari ide kreatif dan original lainnya.

DAN, MASIH BANYAK LAGI..

Karena kalau ditulis semua bisa-bisa bacanya 3 tahun pula, maka hal pamungkas yang ingin saya katakan adalah, setiap penulis pasti mengalami hal unik dalam perjalanan mereka. Tapi alih-alih ‘bekerja’ sebagai penulis, jangan lupa pertanyaan ini, “Mau jadi penulis seperti apa kamu?”

no handout

Tulisanmu mengukir sejarah nantinya. Entah itu bagi banyak orang, atau minimal buat diri sendiri. Apa yang saya alami di atas itu masih 3 tahun, tapi setidaknya bisa jadi sedikit gambaran untuk siapa yang pernah mengalami, atau bisa jadi pembelajaran buat siapa yang hendak terjun ke dunia jurnalis di media online. Sampai jumpa di tulisan berikutnya 😉

Advertisements

Leave a Reply