Advertisements

Deretan ‘Dosa Besar’ Content Writer yang Tanpa Sadar Kerap Dilakukan

Sejatinya, menulis adalah sebuah hobi dan kesukaan banyak orang. Dengan menorehkan kata demi kata yang menyumpal di pikiran, rasanya jadi lega. Mulai dari menulis di buku diary, menulis cerpen, menulis puisi, menulis novel dan masih banyak lagi. Bahkan, menulis adalah mata pencaharian, bagi mereka yang tau bagaimana memoneytizenya.

Contohnya saja penulis fiksi, dengan imajinasi dan juga kemampuan mengolah kata, mereka bisa mencari nafkah dari sana. Pun dengan penulis artikel dan berita di majalah atau koran, dan kini yang terbaru, content writer atau penulis konten artikel di media digital atau website.

Reading it’s just scroll and click

Internet change the way of life. Most people dengan usia di bawah 40 tahun, cukup mengetik keyword yang dimau di browser dan muncullah apa yang ingin mereka tau. Baca berita? It’s just one click! And this whole world already in your hand. Tidak heran jika banyak orang mendirikan media online dan merekrut banyak content writer untuk mengisi artikel di website mereka.

Jika media mainstream menggunakan tolak ukur  berapa banyak eksemplar yang terjual, maka media online menyebutkan dengan ‘page views’ alias berapa banyak website itu dikunjungi dan dibaca oleh pengunjung. Media kecil hingga besar, yang baru muncul hingga yang sudah belasan tahun eksis, semuanya tiada henti berkejaran dengan target pv. Tiap bulan, target dinaikkan, dengan harapan pemasukan juga ikutan naik.

Tentu bisa dibaca, pada siapa ujung tombak beban page views ini dipikul. Tentu saja pada content writernya, karena content is a king, right? Akhirnya para pejuang keyboard ini dituntut bisa membuat artikel-artikel mahadahsyat yang akan mengundang pembaca, kalau perlu meraup pv ratusan juta. Terjadilah jelajah sana sini, cari ide ke sana ke mari, demi memenuhi target yang makin hari tak terkendali.

Dari sinilah, bermunculan ‘dosa-dosa’ besar yang berefek domino, terjadi berulang kali. Seperti di artikel saya sebelumnya, ‘melacur’ demi pv rasanya sudah jadi hal biasa. Dapat sumber bahan artikel yang keren, langsung rewrite aja, tanpa terlebih dulu crosscheck kebenaran hal tersebut. Kemudian 1 media membuat dan menerbitkannya, kemudian diikuti oleh media-media lainnya. Terjadilah kesalahan massive dan besar-besaran yang bikin banyak orang tepok jidat saking absurdnya.

Contohnya adalah saat heboh artikel mengenai mole people. Hampir semua media dari yang ecek-ecek sampe yang kelas nasional mengulasnya. Berita mengenai manusia yang hidup di bawah tanah itu langsung jadi sorotan di Indonesia, padahal setelah ditelusuri, itu kesalahan yang fatalnya luar biasa.

Heboh Mole People

Heboh Mole People [via]

Mole people doesnt exist, dan itu ternyata hanya sebuah poster dari film klasik puluhan tahun yang lalu. Jadi seperti ‘pembodohan massal’ bukan? Tapi bagaimanapun juga, sempitnya waktu dan target yang menggila membuat content writer tidak memiliki keleluasaan untuk riset validitas artikelnya terlebih dahulu.

Move on dari validitas artikel, ternyata masih ada dosa besar lain dari content writer. Yaitu penulisan judul, yang kadang nggak nyambung sama isi artikel, atau terlalu frontal sehingga menyinggung. Memang, judul ibarat gerbang untuk sebuah rumah. Jika terlihat jelek dan tidak menarik, maka nggak ada yang mau masuk alias ngeklik. Jadi bagaimana caranya, title bisa mengundang rasa penasaran pembaca.

Masalahnya, tidak sedikit yang akhirnya cukup ngaco bikin judul, pokoknya fantastis. WOW ARTIS INI KETAUAN TIDUR BARENG BUKAN MUHRIM! Kemudian isinya adalah sebut saja artis perempuan bernama XY, tidur bareng teman-teman segengnya yang juga PEREMPUAN. Berasa kena ‘jebakan betmen’ banget kan? Atau ASTAGA ARTIS XXYY KETAUAN SELINGKUH! Padahal informasi tersebut belum jelas benar tidaknya.

Barack Obama Sampe Face palm kalo baca judul yang ngaco #justkidding

Membuat judul yang fantastis tidak harus bikin yang baca meringis. Ada banyak cara untuk membuat sebuah artikel tetap menarik pembaca, tanpa perlu melebih-lebihkan judulnya hingga mendekati nggak nyambung. Pintar-pintar bermain kata adalah kuncinya. Sederhananya: improve your copywriting skill!

Anak-anak agency nih jagoannya, copywriting adalah ‘makanan’ mereka sehari-hari. Bagaimana caranya menyampaikan beribu maksud dan tujuan menjadi satu kalimat singkat padat tapi merangkum keseluruhan. Bukan hal yang mudah, tapi bukannya dengan setiap hari menulis, kemampuan akan makin terasah?

Satu lagi nih ‘dosa besar’ content writer yang jujur saya juga masih sering lakukan. TYPO! Sungguh ini hal kecil tapi mengganggu banget! Nggak enak sekali udah baca enak-enak tiba-tiba ada beberapa kata yang nggak bisa dipahami maksudnya. Eh ternyata salah penulisan alias typo. Bahkan kata VP di kantor saya dulu, typo is our big enemy alias musuh besar bagi semua penulis.

Contoh typo yang fatal abis walau agak lucu sih dibaca

Karena typo adalah takdir yang bisa diubah #cailaaah maka ada banyak cara untuk menghindari hal ini. Salah satu yang terpenting adalah, selalu baca lagi artikel yang udah kelar dibuat, dengan hati-hati dan teliti. Sehingga kalau ada salah penulisan bisa segera dibetulkan, agar nggak terjadi kesalahpahaman. Namun lagi-lagi, minimnya waktu yang dimiliki seseorang yang berkejaran dengan trends membuat ‘dosa’ besar ini masih kerap bergulir tiap harinya.

Semuanya memang kesalahan domino alias tidak disebabkan oleh 1 faktor saja. Penulis kerap melakukan dosa besar karena mereka diburu waktu dan target. Yang ngasih deadline dan target, juga diburu oleh kebutuhan pemasukan yang makin hari dituntut makin naik grafiknya. Solusi sederhana untuk mengurai masalah-masalah ini sebenarnya satu: stick to basic rules.

Menulis dengan hati dan hati-hati, diberi waktu yang memadai. Kualitas tulisan akan naik, begitu juga dengan dengan pv. Remember, efforts never lie, rite?

enough said

Jangan sampai artikel yang kita tulis malah jadi pembodohan massal, atau menyebar fitnah tidak karuan. Ketika quantity over quality jadi tolak ukur, maka seperti sekaranglah hasilnya. Dalam waktu sekian jam, content writer ‘dipaksa’ menulis sekian artikel yang berbobot! Mana bisaaa, penulis juga manusia kan? Bukan mesin yang punya kapasitas tak terbatas.

Yuk teman-teman content writer, mulai untuk mencintai hasil karya sendiri dengan tidak melakukan dosa-dosa besar di atas. Setidaknya saat banyak yang membaca artikel kita, bisa bangga. Ini lho artikelku, yang dibuat dengan sepenuh hati

Advertisements

Latest Comments

  1. Santri Drajat

Leave a Reply